Kisah Hanoman di Prangko Edisi Tahun Monyet

Admin, 06/03/2016

Kisah Hanoman di Prangko Edisi Tahun Monyet

Tahun Baru Imlek 2567 menurut penanggalan Tiongkok memasuki shio monyet api. Monyet api adalah simbol hewan yang cerdas dan lincah. Sifat alami monyet akan memengaruhi berbagai hal di tahun ini. Misalnya lincah alias cepat, cerdik yang kadang bercampur licik, gigih atau tak pernah putus asa, dan hidup berkoloni, alias bisa bekerja sama. Sedang unsur api yang dibawanya, adalah simbol energi yang besar.

Tak ketinggalan, Pos Indonesia menerbitkan prangko seri Tahun Monyet. Penerbitan Prangko seri Tahun Monyet 2016 ini mengambil latar belakang kisah dalam tokoh Pewayangan Jawa yaitu Hanoman.
Prangko yang didesain oleh tim dari Wanara Studio dan dicetak oleh Perum Peruri tersebut memiliki detail teknis sebagai berikut:

  • Prangko edisi Shio Monyet ini diterbitkan sebanyak 300.000 set dengan harga Rp 9.000 per set (terdiri dari 3 desain prangko) dengan nominal masing-masing Rp 3.000.
  • Mini sheet seri Tahun Monyet diterbitkan sejumlah 5.000 lembar dengan harga per lembar Rp. 18.000
  • Souvenir Sheet seri Tahun Monyet  diterbitkan sejumlah 8.000 lembar dengan harga per lembar Rp. 10.000.
  • Sampul Hari Pertama (SHP) seri Tahun Monyet  diterbitkan sejumlah 3.000 lembar dengan harga per lembar Rp. 12.000.
  • Sampul Hari Pertama SS (SHP  SS) seri Tahun Monyet  diterbitkan sejumlah 3.000 lembar dengan harga per lembar Rp. 13.000.

Kisah Hanoman dalam Pewayangan Jawa

Hanoman adalah putra Batara Guru dan Anjani yang diasuh dan menjadi anak angkat Batara Ayu. Anjani adalah putri sulung Resi Gotama yang terkena kutukan sehingga berwajah kera. Atas perintah ayahnya, Anjani bertapa telanjang di telaga Madirda. Suatu ketika, Batara Guru yang sedang melintas di atas telaga melihat Anjani yang sedang bertapa. Melihat Anjani, Raja para dewa pewayangan itu pun terkesima hingga mengeluarkan mani yang kemudian diusap dengan daun asam dan dibuang ke telaga. Daun asam tersebut melintas dihadapan Anjani yang kemudian dipungut dan dimakan. Peristiwa tersebut menyebabkan Anjani mangandung. Hingga pada waktunya, Anjani melahirkan seekor kera berbulu putih yang diberi nama Hanoman. Anjani kembali berwajah cantik dan dibawa ke kahyangan sebagai bidadari.

Bayi kera berbulu putih tersebut diambil oleh Batara Bayu lalu diangkat sebagai anak. Selama dalam pengasuhan Batara Bayu, Hanoman diberikan pendidikan dan ilmu kesaktian sehingga kuat dan sakti seperti ayah angkatnya. Setelah selesai, Hanoman turun ke dunia dan mengabdi kepada pamannya Sugriwa, raja kera Guwakiskenda.

Setelah terjadi perebutan kekuasaan raja kera antara Sugriwa dan kakaknya Subali, Hanoman bertemu dengan Rama dan Laksmana. Rama meminta bantuan Hanoman pergi ke istana Alengka untuk menyelidiki dan melihat keadaan Sita yang diculik oleh Rahwana raja Alengka. Di sana, Hanoman membuat kekacauan sehingga ditangkap dan dihukum dengan cara dibakar. Namun berkat kesaktiannya, Hanoman justru kebal terhadap api dan mampu membakar sebagian ibukota Alengka tersebut. Peristiwa ini dalam pewayangan Jawa dikenal dengan sebutan Hanoman Obong.

Dalam upayanya merebut kembali Sita dari tangan Rahwana, Rama dibantu oleh pasukan kera. Pasukan kera bahu membahu membangun jembatan menuju istana Alengka yang terletak di atas sebuah pulau. Di antara pasukan kera tersebut, turut membantu Anggada dan Anila.
Anggada yang digambarkan berbulu merah adalah anak Subali yang mempunyai kesaktian mampu meloncat sejauh 900 mil. Dalam penyerangan ke Alengka, Anggada berhasil membawa mahkota Rahwan dan dipersembahkan kepada Rama.

Anila adalah patih kerajaan Guwakiskenda ketika dipimpin oleh Sugriwa. Anila digambarkan sebagai kera berbulu ungu, bertubuh kecil dan gemuk namun sangat cerdik. Dalam pewayangan, keberadaan Anila berkat kesaktian Batara Guru yang kemudian dianggap sebagai anak Batara Narada.

Pertempuran di Alengka akhirnya dimenangkan oleh pihak Rama yang dibantu oleh pasukan kera. Sita kembali ke pangkuan Rama sedangkan Rahwana berhasil dibunuh oleh Rama yang dibantu oleh Hanoman.